• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

LEGENDA CINTA TERLARANG GOLAN-MIRAH KABUPATEN PONOROGO

(Foto Makam Joko Lancur dan Siti Amirah di dusun Mirah desa Nambangrejo Sukorejo)

5 Kilometer ke arah barat pusat kota Ponorogo, terdapat sebuah legenda yang sangat terkenal. Warga 2 dusun yakni Golan dan Mirah (Masuk desa Nambangrejo Sukorejo) sudah ratusan tahun dilarang saling menikahi.

Sampai saat ini pantangan ini belum ada yang melanggar. Data yang kami telusuri di KUA setempat juga menemukan hal yang sama. Belum pernah ada warga dua dusun ini yang saling menikahi.

Selain pernikahan, terdapat kepercayaan bahwa alam dua desa inipun tidak mau disatukan. Penduduk percaya bahwa siapa saja membawa sebutir batu atau sepotong ranting dari desa Golan akan bingung dan tidak bisa keluar jika membawanya masuk ke desa Mirah,demikian juga sebaliknya.

Fenomena yang lebih unik, di kawasan barat Ponorogo bukanlah hal yang aneh jika ada hajatan pernikahan, panitia mengumumkan lewat pengeras suara agar warga dua desa ini tidak datang dan duduk bersamaan dalam satu tempat karena selama apapun nasi ditanak atau sayuran dimasak tidak akan bisa matang sebelum salah satu dari mereka berpisah.

BAGAIMANA LEGENDA INI BERAWAL MULA, INILAH KISAHNYA

Warok Onggolono, salah satu tokoh paling sakti di Ponorogo mempunyai anak bernama Joko Lancur. Joko Lancur ini suka bermain adu jago.Saat permainan berlangsung seru, jago milik Joko Lancur kalah dan lari. Joko Lancur mengejarnya hingga ke dusun Mirah. Di tempat ini jago Joko Lancur masuk ke rumah Ki Ageng Mirah. Ki Ageng Mirah mempunyai nama asli Ki Ageng Muslim, nama Mirah sebenarnya nama anaknya yang sangat cantik, dalam sebagian riwayat bernama lengkap Siti Amirah.

Joko Lancur yang tak sengaja melihat kecantikan putri Ki Ageng Mirah kemudian gandrung kapirangu (bahasa ini khas masyarakat Jawa/Ponorogo jaman dahulu, artinya adalah jatuh cinta setengah mati yang membuat tidak enak makan dan tak bisa tidur)

Joko Lancur pun memohon kepada ayahnya agar melamar putri Ki Ageng Mirah. Sebenarnya warok Onggolono keberatan karena mereka berbeda agama dan keyakinan. Warok Onggolono masih memegang teguh agama lama, sementara Ki Ageng Mirah memeluk agama Islam. Tapi demi cinta orang tua kepada anak,dengan berat hati warok Onggolonopun datang melamar.

Ki Ageng Mirah yang menerima lamaran warok Onggolonopun bingung. Di satu sisi dia dan warok Onggolono berteman baik,di sisi lain mereka berbeda agama. Karena dalam adat Jawa menolak permintaan secara langsung di anggap merupakan penghinaan dan tantangan, maka secara halus Ki Ageng Mirah menerima dengan syarat yang secara akal sehat sangat sulit dipenuhi

1. Sawah di dusun Mirah diairi dalam waktu semalam
2. Mas kawin isi lumbung berupa padi dan kedelai yang bisa berjalan sendiri tanpa diangkut orang

Sebagai warok sakti,permintaan Ki Ageng Mirah langsung disanggupi. Dengan ilmunya warok Onggolono menyuruh siluman buaya Bajul Sengoro untuk membendung sungai dan mengairi sawah Mirah. Begitu selesai , ia menyiapkan iringan pengantin, dan benar saja, terjadi sesuatu yang ajaib…butiran gabah dan kedelai berjalan sendiri mengiringi rombongan pengantin.

Ki Ageng Mirah yang melihat rombongan datang lalu bermunajat kepada Allah dan melihat bahwa yang terjadi adalah akibat ilmu ghaib dari warok Honggolono.

Sesampai di depan rombongan,Ki Ageng Mirah mengeluarkan ucapan sambil mengeluarkan kesaktianya..”maaf adiku Warok Onggolono….yang berjalan itu bukan kedelai tapi titen (kulit kedelai)…itu juga bukan padi tapi damen (jerami)…” kedua benda itupun berubah menjadi damen dan titen. Pengikut warok Onggolonopun melaporkan bahwa bendungan yang dibuat siluman Bajul Sengoro sudah jebol.

Warok Onggolono yang tidak kuasa menahan marah,lalu berteriak..”kakang Mirah, kau sudah membuat aku malu..lihat pembalasanku!.lihat keadaan putrimu!..hanya dengan teriakan itu putri Ki Ageng Mirah langsung tergeletak meninggal dunia. Joko Lancur yang melihat kekasihnya mati, langsung meraih keris di pinggangnya dan melakukan belapati (bunuh diri) untuk membuktikan ketulusan cintanya

Kedua rombongan pengantin inipun geger dan langsung menghunus senjata..namun sesaat sebelum pecah pertumpahan darah..mereka dikejutkan suara ghaib yang tidak nampak wujudnya berseru keras..”wis kersane Gusti Golan lan Mirah ora bakal jejodonan selawase’ (sudah kehendak Yang Kuasa, Golan dan Mirah tidak berjodoh untuk selamanya).

Kedua rombongan lalu pulang ke rumah masing masing dan berpesan kepada anak keturunanya agar tidak saling menikah ataupun menyimpan damen dan titen . Demikianlah cerita Legenda Cinta Terlarang tersebut berawal.



Referensi: Babad Ponorogo karangan Purwowijoyo. Wawancara dengan bapak Modin dusun Mirah tahun 2010.


Share:

Peninggalan Kerajaan Gelang Gelang di Madiun yang Terlupakan

Sebenarnya di wilayah Madiun banyak terdapat peninggalan sejarah yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan Nusantara pada masa lalu. Salah satunya berupa beberapa situs di Desa Ngrawan, Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Sayang, rekam jejak kebesaran Nusantara di situ hilang lantaran dijual orang-orang tak bertanggung jawab.

Menurut penutusan Mbah Mujarot, warga Desa Ngrawan sekaligus mantan Jogoboyo Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, situs-situs yang ada di desanya adalah peninggalan Kerajaan Ngurawan, atau lebih dikenal dengan kerajaan Gelang-gelang. “Ada pula yang menyebut kerajaan Gegelang

Mbah Mujarot juga menjelaskan, mulai dari masa awal berdiri hingga masuknya agama Islam, ada tiga bagian dalam cerita daerah Ngurawan. Wilayah Ngurawan sangat erat hubungannya dengan kerajaan Panjalu Kediri. Salah satu indikasinya adalah, nama daerah di sekitar Ngurawan sanga mirip dengan yang ada di daerah Kerajaan Panjalu saat itu.
“Cerita daerah ngurawan ada 3 cerita, mulai dari cerita babad pertama masa Kerajaan Panjalu Kediri, babad ke dua masa Kerajaan Mataram Kuno, dan babad ketiga pada masa masuknya agama Islam. Untuk babad pertama, kerajaan Ngurawan erat hubunganya dengan kerajaan Panjalu Kediri. Hal tersebut berdasarkan nama daerah sekitar Ngurawan yang hampir sama dengan nama nama daerah di Kediri, seperti doho dan pamenang,” ujarnya.

Namun, seiring majunya zaman, semua peninggalan hampir semua hilang tak berbekas. Sebagian besar dijual warga sekitar kepada pemburu barang antik yang sering datang ke daerah itu untuk mencari koleksi, harga yang tinggi

“Bahkan situs tatanan batu pondasi yang merupakan bekas dinding kerajaan serta bangunan keraton sudah hilang tak berbekas, karena batu-batu tersebut ada yang dijual ada pula yang dibuat kandang ayam. Ada juga yang terkubur aspal jalan desa. Yang ada tinggal beberapa arca di gerbang pintu masjid, sebuah pot bertuliskan tahun saka 1320, saka serta yoni di makam kuno belakang masjid,” terang Mbah Mujarot.

Perlahan namun pasti, jejak-jejak Kerajaan Ngurawan makin hilang. Entah untuk ke depannya apakah masih ada yang mengenalnya, karena kerajaan ini sendiri tidak pernah tercatat dalam sejarah resmi Indonesia.

INSPIRASI JAYAKATWANG

Menurut kitab Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang yang
telah menyerah lalu ditawan dibenteng pertahanan Mongol di Hujung Galuh. Menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, ia meninggal di dalam tahanan penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan sebuah karya sastra berjudul Kidung Wukir Polaman.
Sri Jayakatwang memberi inspirasi bagi kita generasi anak turunnya untuk terus berkarya meski dalam kondisi yang sulit..
Maka terus berjuang temen2 HvM KoMa untuk terus menyelamatkan jejak2 sang inspirator Jayakatwang, the next icon of mbediun

Prasasti Kudadu (1216 C/ 1294 M) pada lempeng IVb

“....samangkana, hana ta tunggul ning satru layulayu katon wetani haniru, bang lawan putih warnanya....”
(“.....ketika itu, muncul bendera dari musuh berlari lari terlihat di sebelah timur, merah dan putih warnanya.... )

Prasasti Kudadu (1216 Saka) Lempeng III:

“…..tinekān de çri jayakatyěng sakeng glangglang,…..”
(“.…..kedatangan (diserang) Sri Jayakatyeng dari Glang-Glang……”)

Merindiiingggg caaahhh....Panji Merah dan Putih pertama dikibarkan oleh Pasukan Sri Jayakatwang Raja Glang Glang i bhumi Wurawan (BUKAN Kediri) saat menyerang kerajaan Tumapel...jadi Panji Merah dan Putih berasal dari Ngurawan (Madiun) BUKAN MAJAPAHIT !!!

Situs purbakala bangunan candi dan kolam pemandian ditemukan di area situs Ngurawan Kabupaten Madiun Jawa Timur oleh para pengrajin batu bata. Situs ini diyakini merupakan peninggalan sejarah antara kerajaan jenggala dan Majapahit(21/05/2013.)

Struktur bangunan kolam pemandian dan candi terbuat dari batu bata dengan ukuran besar dan tampak masih cukup kokoh. Dilokasi ini warga juga menemukan batu arca namun sudah rusak diduga karena termakan usia. Sejumlah warga masih terus membersihkan dan menggali bangunan candi sehingga cukup menyita perhatian warga yang menyaksikan.


Temuan ini mengundang salah satu pemerhati dan juga peneliti cagar budaya di Madiun untuk melakukan kajian. Penelitian awal menyebutkan bangunan tersebut merupakan kolam pemandian dan candi tempat peribadatan umat hindu. Situs ini merupakan bagian dari situs ngurawan dan melengkapi penemuan sebelumnya yakni lingga yoni dan umpak batu.



Menurut legenda masyarakat daerah ini dan sejumlah bukti fisik berdasarkan corak bentuknya, mencirikan kebudayaan tiga zaman. Yakni mulai dari zaman kediri atau kerajaan Jenggala pada abad 10 masehi, zaman kerajaan majapahit pada abad 11 hingga 12 masehi serta zaman masuknya peradaban Islam sekitar abad 14 masehi.

Temuan ini telah dilaporkan ke pihak Balai Pelestarian Peninggala Purbakala Mojokerto guna dilakukan penelian lebih lanjut. Sejumlah warga kini menjaga penemuan benda purbakala ini karena khawatir dicuri para pemburu benda purbakala.

Share:

sejarah pendidikan di madiun

Groepsportret van scholieren en personeel voor een schuur Circa 1915..Foto Bersama Pelaku Pendidikan dan Staf Tahun 1915..Menurut saya ini adalah foto bersama setelah peletakan batu pertama pembangunan sekolah kartini di madiun...jika di zoom di bagian kiri bawah foto tertulis Madioensche Kartinischool 12 Januari 1915..jadi letak lokasi foto ini dibuat adalah di SMPN 3 Madiun Saat ini...Source : TroopenMuseum Nederland...
Share:

Sejarah Caruban

(foto: para bangsawan sedang rapat di kadipaten)
Di saat Kadipaten Madiyun hanya tinggal Wanareja karena intervensi Bangsa Belanda, akibat Perang Dipanegara, dimana Kadipaten Madiyun dan Kabupaten Caruban terlibat dalam peperangan itu dan melawan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Lalu Kadipaten Madiyun yang terdiri dari bebepa kabupaten kecil-kecil yang berpusat di WANAREJA, dipretheli oleh Bangsa Belanda, akibatnya Kabupaten Caruban digabungkan ke Kadipaten Madiyun (WANAREJA) lalu menjadi Kabupaten Madiyun sekarang. Setelah Kotapraja Madiyun eksis sendiri punya pemerintahan sendiri. Lalu didirikan lembaga KARESIDENAN MADIYUN oleh Pemerintah Hindia Kolonial Belanda. Begitu sejarah berlanjut kini Kutha Caruban yang dulu menjadi Ibukota Kabupaten Caruban berpusat di Desa Krajan, kini dijadikan menjadi Ibukota Kabupaten Madiyun dari hasil penggabungan wilayah itu Wanareja dan Kabupaten Caruban. Mengapa nama "CARUBAN" begitu terkenal karena dahulu memang nama kabupaten yang memiliki status istimewa pada pemeritahan Kraton Demak Bintara sampai dengan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat waktu itu. Pada waktui itu NKRI belum ada, baru berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945. Kabupaten Caruban merupakan bagian dari Kasultanan Demak Bintara, Kasultanan Pajang, Kasultanan Mataram dan terakhir Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sedangkan Kadipaten Madiyun terakhir merupakan bagian dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejak Kanjeng Pangeran Mangkudipura I (Mangkungera VI) ing Kadipaten Madiyun dipindah ke Caruban dan menjadi Bupati Caruban menggantikan kedudukan Raden Tumenggung Somadirja. Kadipaten Madiyun diserahkan ke Raden Pangeran Rangga Prawirasentika, yang kemudian didaulat menjadi Adipati Madiyun, dengan gelar Raden Adipati Harya Rangga Prawiradirja I ing Madiyun, terjadilah perubahan penguwasa di Kadipaten Madiyun. Para Bupati/Adipati Madiyun, mulai Rangga Prawiradirja I dan seterusnya dimakamkan di Makam Taman Madiyun. Sedangkan Makam Kuncen Madiyun mulai Panembahan Rangga Jumena sampai Kanjeng Pangeran Mangkudipura I (Mangkunegara VI). Kanjeng Pangeran Mangkudipura I memerintah di Kabupaten Caruban tidak lama, lalu diganti oleh Kanjeng Bupati Raden Tumenggung Natasari Trah Raden Adipati Harya Metahun Suranegara ing Jipang, demikian selanjutnya Kabupaten Caruban diperintah oleh para Bupati dari Trah Adipati Harya Metahun, yang tidak lain putra Kanjeng Sunan Pakubhuwana I ing Kartasura Hadiningrat sendiri. Namun demikian Kanjeng Pangeran Mangkudipura I mengadakan hubungan pernikahan dengan para putra Adipati Harya Metahun Suranegara ing Jipang. Kanjeng Pangeran Mangkudipura II putra ke-1 Kanjeng Pangeran Mangkudipura I menikah dengan putra ke-10 Harya Metahun dan putra ke-2 Kanjeng Pangeran Purwanegara menikah dengan putra ke-12 Harya Metahun, kemudian berputra Raden Tumenggung Suradipura yang menikah dengan putra Kanjeng Kyai Adipati Raden Tumenggung Purwadiningrat ing Kadipaten Magaten (buyut Pengeran Cakraningrat II / canggah Panembahan Cakraningrat I ing Madhura).
Share:

Di Tempat ini

Tragedi Bom yang Gagal.
Skenario penghadangan terhadap patroli Belanda di Saradan sudah dirancang, tanggal 14 Juli 1949 pukul 07.00 ditetapkan waktu penghadangan. Semua anggota TGP sudah siaga dan berada di pos nya masing-masing. Ada empat pos penghadangan patroli yang disiapkan disepanjang jalan Saradan yaitu pos A, B, C dan D.
Patroli Belanda tampak beriringan berjalan dari kejauhan. Iring-iringan patroli yang jadi target incaran sudah masuk dalam killing ground TGP, tinggal menunggu saat yang tepat untuk mengeksekusi dan meledakkan trek bom yang sudah disiapkan. Sesuai skenario patroli terdepan Belanda dibiarkan melewati pos A dan B tanpa serangan pendadakan, tiba waktunya anggota di Pos C yang akan mengeksekusi jika patroli terakhir lewat.
Tapi rupanya skenario penghabisan tersebut tidak sesuai rencana. Tiga Bom di Pos C yang seharusnya meledak ternyata dua bom gagal menghantam Jeep patroli Belanda. Sesaat patroli itu terkejut karena serangan pendadakan di area penghadangan.
Pertempuran Saradan pun pecah karena bala bantuan Belanda segera datang. Pos pos penghadangan berhasil menghancurkan kendaraan-kendaraan yang datang membantu.
Selepasnya keberhasilan mengeksekusi patroli, dua anggota TGP Bagio dan Saparno pada pukul 21.00 mendapat tugas melakukan pengecekan terhadap bom yang gagal tersebut. Tak disangka tak diduga bom yang gagal meledak itu mendadak meledak di hadapan anggota TGP lain dan "BLARRR!". Suaranya memekakkan telinga dan anggota TGP sesaat terdiam terkejut melihat tubuh kedua rekannya hancur lebur berserakan disekitar lokasi.
Anggota regu dengan sigap mengumpulkan bagian-bagian tubuh rekannya yang hancur berserakan di pohon dan semak-semak di hutan Saradan untuk dikumpulkan dan segera dikuburkan.
Inilah sepenggal kisah lokasi penghadangan di Saradan yang diabadikan dengan nama Jln. Bagio Saparno dan lokasi tersebut diabadikan dengan monumen hidup dalam bentuk sekolah yaitu SMPN 2 Saradan (SMP TGP Saradan)
Share:

Taukah Kamu !

Sebuah Lambang Kebanggaan yang Tersembunyi.
Dibalik tembok nama SMP 2 Saradan terpatrilah lambang besar TGP sebagai kebanggaan kesatuan pelajar pejuang dari Detasemen Teknik.
TGP Madiun yang lebih dikenal dengan Kompi Sjiwa (Dewa Perusak) banyak melakukan aksi sabosate jembatan dan menghadang konvoi patroli Belanda.
Dalam bulan Juni 1949 saja sudah terjadi 11 kali penghadangan yang merusakkan 7 kendaraan patroli diantaranya 4 Truk, 2 half panser dan 1 traktor belum termasuk korban jiwa dari Belanda.
Untuk mengatasi gangguan ini Belanda membangun pos penjagaan di Caruban (6 KM barat Saradan) dan Wilangan (10 KM timur Saradan).
Disekitar jalan Caruban Saradan Wilangan setiap hari dilakukan patroli Belanda tetapi tetap saja sabosate oleh TGP dilakukan.
Sabosate ini dilakukan dalam jumlah anggota kecil sekitar 3-6 orang, selesai meledakkan mereka langsung kabur meninggalkan lokasi.
Entah sabotase tersebut berhasil membawa korban atau tidak, itu bukan menjadi masalah bagi TGP karena memang prinsip "HIT AND RUN" yang mereka pegang.
Sabosate-sabotase yang dilakukan di Saradan membuat nama TGP makin dikenal dan ditakuti pihak Belanda sehingga menjadi kesatuan yang patut diperhitungkan perjuangannya.
Share:

Kyai Sari Muhammad

Kyai Sari Muhamad (akhir 1800 an - 1937 M) , seorang ulama terkemuka di lingkungan Jambewangi gg. pesantren wilayah Nambangan kidul (Jl. Kasuari sekarang) mendirikan pesantren Jambewangi , pada saat itu beliau mempunyai kebun jeruk yg dikelola para santri, para santri kebanyakan berasal dari daerah Takeran, rupanya jeruk ini kemudian di kembangkan di daerah Takeran dan sekitar dengan sebutan jeruk Nambangan yg cukup terkenal tersebut. Namun jeruk tersebut di daerah Nambangan sendiri sudah punah keberadaanya.
Kyai Sari Muhamad selain mumpuni dalam bidang agama beliau juga dikenal punya kelebihan dalam hal kewaskitaannya, maka suatu waktu dimintai bantuan oleh Kanjeng Bupati Ronggo di Madiun untuk membantu Bupati Trenggalek atau ada yg mengatakan Bupati Ngawi untuk mengalahkan patihnya yg mbalelo atau melawan sang bupati. Sebuah langgar tiban, tiba-tiba berdiri di depan ndalem kyai Sari Muhamad yang merupakan hadiah dari sang Bupati.
Mushala tersebut hingga sekarang masih ada walaupun sudah banyak perubahan yg semula berupa langgar panggung an, sekarang sudah permanen. Gebyok ber motif sulur bunga dan sebuah relief kaligrafi yang oleh masyarakat sekitar disebut "jolompong" bergambar harimau yg masih tersisa selain ndalem Kyai yang sekarang menjadi kediaman putra wayah. Ada tradisi unik di lingkungan mushala ini, jika ingin berhasil dalam hal pendidikan atau mendapat pekerjaan agar bermunajat kepada Allah SWT dan membersihkan "jolompong" tersebut.
Mushala Kyai Sari Muhamad sudah berpindah dari tempat aslinya sudah 4 kali yang terakhir ditempat sekarang yaitu Mushala Baitus Syafaat, hal ini disebabkan karena kurangnya penerus peninggalan Mbah Kyai Sari Muhamad, termasuk mushala dan jeruk Nambangan, dan juga akibat geger gerombolan PKI Muso 1948.
Kyai Sari Muhamad, mempunyai 3 istri salah satunya merupakan putri triman dari perdikan Pacalan, yang sering disebut Nyai Pacalan.
Selain Napak tilas Kyai Sari Muhamad yang hidup di akhir tahun 1800 an hingga awal tahun ke 1900 an, teman-teman Historia Van Madioen dan Lesbumi NU Kota Madiun juga mengunjungi beberapa titik petilasan tokoh yang babat lingkungan ini yaitu : Mbah Kyai Ageng Jambewangi, yang makamnya sekarang sudah terhuruk oleh tangkis sungai Madiun, juga mengunjungi punden Mbah dalang dan tokoh penghayat kepercayaan "Sapta sila" Mbah Sastro Wijaya di sekitar makam Jodang Nambangan kidul.

Sumber : Bapak Mustakim ketua RW, Bapak Kabul, Bapak Mulyono dan Bapak Djumono dan Mbah Soeparsih.
Share:

mengenang TRIP

PERTEMPURAN TRIP MENGHADAPI PKI DI MADIUN
Tanggal 1 September 1948 di Solo terjadi kekacauan yaitu penculikan dan pembunuhan Dr. Moewardi,pemogokan buruh di pabrik Delanggu Solo. Peristiwa ini merupakan peristiwa besar yang dijadikan “ test case” oleh PKI untuk mengetahui sampai dimana reaksi,kekuatan dan wibawa pemerintah RI. Strategi ini dimaksudkan agar perhatian pemerintah tertuju pada kota Solo,sehingga diharapkan konsentrasi pasukan RI ada di sekitar kota Solo. Setelah peristiwa di Solo yang dianggap sebagai proolog selesai,FDR/PKI mulai mengadakan perebutan kekuasaan dengan didukung oleh Brigade 29 yang hampir seluruh anggotanya berasal dari laskar pemuda sosialis Indonesia
( PESINDO ). Brigade 29 ini sebelumnya bermarkas di Kediri kemudian dipindahkan untuk menguasai Keresidenan Madiun.
Tanggal 18 September 1948 laskar PESINDO di bawah PKI mengambil alih kekuasaan Pemerintah RI di Madiun dengan kekuatan bersenjata. Hampir semua kesatuan bersenjata dan posisi penting di Madiun serta unit–unit Kecil dari Divisi Siliwangi dilucuti dan dikuasai PESINDO, Namun markas komando I dan asrama TRIP terhindar untuk sementara waktu. Pesindo berharap dengan popularitas dan wibawa yang diperoleh mereka akan ditakuti dan akhirnya para pelajar ini akan mudah dapat dibujuk untuk bergabung dengan mereka. Namun pendapat mereka ternyata salah besar, para pelajar khususnya TRIP menyatakan tetap setia pada pemerintah RI dan menolak tegas bergabung dengan FDR/PKI.
Tanggal 18 September 1948 ketika PESINDO melucuti kesatuan–kesatuan bersenjata, satu kelompok pasukannya bergerak melalui belakang asrama TRIP dengan sasaran mess perwira Divisi Siliwangi yang berada di selatan asrama TRIP. Saat itu ada satu senapan laras panjang, satu bren (senapan mesin) dilemparkan melalui pagar tembok oleh 3 anggota TRIP yang diterima oleh laskar PESINDO. Kehilangan senjata ini baru diketahui kemudian dan setelah mendapat kepastian sensata-senjata tersebut dicuri anggotanya sendiri maka pada tanggal 22 September 1948 diadakan apel pagi seluruh anggota. Dalam apel itu dijelaskan peristiwa tentang hilangnya senjata dan akhirnya dibuat ikrar di bawah bendera Merah Putih yang isinya akan mengampuni anggota yang berkhianat bila sebelum jam 12.00 siang mengembalikan senjata tersebut dan sebaliknya akan menghukum dengan menembak mati jika sampai jam 12.00 siang senjata tersebut tidak dikembalikan, kemudian setelah apel mereka diperbolehkan‘”Gaes” (pesiar/tamasya) keluar sampai jam 12.00 siang.
Pada tanggal 22 September 1948 asrama TRIP di Jalan Ponorogo Madiun digrebeg dan diduduki oleh FDR/PKI.
Dan senjata TRIP akan dilucuti oleh FDR./PKI, namun anggota TRIP menolak dan melakukan perlawanan akibatnya seorang anggota TRIP yang bernama Moeljadi gugur. Saat penggrebegan terjadi saudara Danar Doenoes ketika melihat ada penyerbuan, segera lari menyelamatkan diri ke lapangan. Waktu itu sebagian besar anggota TRIP sedang istirahat atau tidur siang. Mereka terkejut dan terbangun karena diperintahkan keluar kamar dengan teriakan dan tembakan. setelah itu mereka disuruh jalan jongkok dengan tangan ke atas untuk berkumpul di tempat apel. Salah satu anggota PESINDO memanggil 3 nama anggota TRIP untuk keluar dari kelompok yaitu Soenarjo,Soerojo dan Alex Legowo untuk bergabung dengan PESINDO. Barulah diketahui dengan pasti siapa pengkhianat yang mencuri senjatanya sendiri.Selanjutnya mereka menawan 8 orang yg dianggap pimpinan dan di bawa ke markas PESINDO di jalan raya dekat markas komando I TRIP. Lalu pada hari selanjutnya mereka dibawa ke penjara Kletak ( Sekarang LAPAS kota Madiun ).
Tanggal 24 September 1948 pagi bertebaran di seluruh penjuru kota Madiun ribuan pamflet yang berisi sikap anti Muso dengan FDR/PKInya. Walaupun FDR/PKI menduga gerakan ini ulah para pelajar mereka tidak pernah dapat membuktikan apalagi menangkap pelakunya.Bahkan sebenarnya para pelajar kota Madiun diam-diam menggalang teman-temannya di Magetan untuk ikut serta memusuhi FDR/PKI. Menyadari situasi yang mulai memanas FDR/PKI segera mengambil tindakan preventif dan proaktif agar memanasnya suasana di kalangan pelajar dapat diredam.
Pihak penyelenggara terkejut dan panik melihat reaksi spontan massa. Mereka tidak mengira rapat itu justru jadi boomerang bagi mereka karena muncul berbagai unjuk rasa dalam rangka menentang FDR/PKI. Merasakan situasi tidak menguntungkan rapat tersebut segera dibubarkan tanpa hasil apapun. Namun massa pelajar ternyata tidak mau bubar tapi malah bergerak dalam iring-iringan menuju Taman Makam Pahlawan tempat saudara Moeljadi dimakamkan. Seusai dari TMP massa kembali bergerak sambil meneriakkan yel-yel yang bernada mengejek dan melecehkan FDR/PKI. Bahkan ketika didepan markas PESINDO yang sudah Siap sensata & mengancam siapa saja yang menghina pemerintah mereka, teriakan dan yel-yel ini justru semakin keras bahkan menantang PESINDO untuk menembak mereka. Untunglah peristiwa ini tidak jadi meletus menjadi pertumpahan darah.
FDR/PKI yakin bahwa kerusuhan ini digerakkan oleh anak-anak TRIP yang ada dalam kota sehingga pada tanggal 28 September 1948 tujuh anggota TRIP yaitu,Soeprapto,Soetopo,S­oemadi,Djoewito,Joewono,Soegito dan
Ngadino,
ditangkap atas petunjuk 3 orang yang berkhianat. Ke 7 orang tersebut dibawa ke desa Kresek Kec. Wungu dan ditawan bersama tawanan yang lain, yang pada akhirnya waktu terjadi kepanikan karena serangan dari Siliwangi ke Madiun untuk menumpas FDR/PKI. Seluruh tawanan di Kresek dihabisi dengan menembak membabi buta. Untunglah saat terjadi pembantaian tersebut saudara Soeprapto lolos dari maut dengan cara berlindung di balik lesung (alat penumbuk padi) Namur ke 6 temannya Gugur. Jenasah mereka dapat ditemukan dan di makamkan di TMP.
Ke 7 orang pelajar yang gugur dari kesatuan TRIP Komando I ini kemudian diabadikan pada monumen di samping SMA Negeri 1 Madiun dan Di Jalan Mas TRIP untuk mengenang jasa-jasa dan semangat kepahlawanan mereka semua
Share:

Label

Recent Posts